Proses Pengolahan Limbah Cair

Apa itu limbah cair? Limbah adalah buangan atau bahan sisa dari proses atau kegiatan produksi yang nggak bisa diolah lagi. Disebut limbah atau sampah karena memang nggak ada guna atau nggak punya nilai ekonomi.

Jika pengolahan limbah cair tidak dilakukan setelah proses tersebut, justru bisa membahayakan. Dampak utama adalah merusak lingkungan. Limbah dengan bahan kimia dari industri sablon, misalnya tidak bisa diuraikan oleh bakteri.

Masing-masing daerah di Indonesia pasti punya peraturan yang diatur sesuai keputusan Gubernur. Contohnya, Bali memiliki peraturan Gubernur Bali. Peraturan tersebut adalah No.16 yang diterbitkan tahun 2016.

Gubernur Bali menuangkan peraturan tersebut dalam “Baku Mutu Lingkungan Hidup” serta “Kriteria Baku Kerusakan Lingkungan Hidup.”

Dari peraturan tersebut, kita semua tahu bahwa air limbah dapat disebutkan sebagai air sisa suatu kegiatan yang berbentuk cair. Sedangkan baku mutu pada limbah jenis ini merupakan ukuran batas unsur pencemar.

Bisa juga diartikan sebagai berapa kuantitas dari jumlah pencemar dalam air limbah. Soalnya, air limbah ini nanti harus dilepas atau dibuang dalam sumber air kegiatan.

Tanpa pengolahan yang tepat, menurut Suharto tahun 2011, maka kandungan senyawa kimia beracun justru berbahaya bagi lingkungan, kesehatan, dan lainnya.

Jika dibuang sembarangan, maka air limbah tentu akan merugikan manusia itu sendiri.

Sedangkan menurut Kaswinarni tahun 2008, limbah cair adalah proses industri dengan wujud cair dan memiliki kandungan padatan terlarut. Sehingga, terdapat perubahan kimia, biologi, atau juga fisik dengan kandungan zat beracun.

Dalam hal ini, bisa menimbulkan penyakit atau juga kerusakan lingkungan.

Faktor Yang Dapat Mempengaruhi Limbah Cair

Ada beberapa faktor yang sangat mempengaruhi eksistensi limbah cair. Beberapa diantaranya adalah berikut.

  1. Sumber serta jenis pencemar limbah

Menurut Suharto, tahun 2011 bahwa ada beberapa sumber dari pencemar limbah jenis ini, yaitu: sumber pencemar kimia organik, sumber pencemar kimia anorganik, sumber pencemar fisik, serta sumber pencemar mikrobiologi.

Sumber pencemar fisik meliputi warna, nilai pH, total padatan, bau, dan juga suhu. Sedangkan sumber pencemar kimia meliputi protein, pelumas, minyak, lemak, karbohidrat, alkalinitas, TOD, biochemical oxygen demand, chemical oxygen demand, dan total organic carbon.

Untuk pencemar anorganik dalam limbah cair adalah adanya kandungan sulfur, klorida, logam berta, hydrogen sulfit, gas terlarut, N, dan P.

Contohnya, dalam limbah cair yang dihasilkan dari proses industri, jika biochemical oxygen demandnya sangat tinggi dan lebih dari ambang batas, maka sudah pasti ada senyawa organik dengan konsentrasi oksigen terlarut berlebih. Dengan konsentrasi tersebut mencapai 7,59 miligram per liter.

Sementara itu, pencemaran limbah cair karena sumber mikrobiologi, contohnya adalah mikroba patogen dapat menggangu kesehatan. Karena terdapat beberapa mikroba seperti:

  • Virus hepatitis B
  • Cacing parasite
  • Bakteri
  • Virus
  • Coliform
  • Protozoa
  • Algae
  • Poliovirus
  • Disentri
  • Typhuscholera
  • Salmonella typhi, dll.
  1. Komponen

Siregar tahun 2005 menyebutkan bahwa klasifikasi komponen dari air limbah karena senyawa kimia terdiri dari tiga kelompok, yaitu : senyawa organik (senyawa alam atau organik sintetis), organik, dan gas.

Sedangkan komponen senyawa organik terbentuk dari: karbon, nitrogen, fosfor, hydrogen, oksigen, dan sulfur.

Dalam senyawa organik, ada tiga kelompok dasar, meliputi: protein yaitu bahan dasar dalam sel-sel binatang, dengan total hingga 60%, karbohidrat sebagai penyusun sel tumbuhan, lipida sebagai tak larut dalam air.

Seluruh komponen tersebut kebanyakan ada dalam air, dan tentunya semua harus diperhatikan. Hal ini penting karena sifatnya yang beracun dan membahayakan. Itulah mengapa senyawa organik dapat beresiko mengurangi kandungan oksigen dan membentuk zat beracun.

Bagaimana Karakter Dari Limbah Cair?

Dalam dunia industri, limbah cair merupakan hasil akhir atau buangan dari olahan industri yang tidak berguna. Sehingga, pasti ada karakteristiknya sendiri.

Suharto tahun 2011 menyebutkan bahwa karakteristik limbah termasuk dalam jenis pencemar yang harus mendapat perhatian besar. Hal ini penting, bahkan sebelum melakukan proses pengolahan.

Jenis limbah ini juga memiliki karakteristik untuk analisa yaitu baik dengan metode fisika, kimia, biologi, atau kombinasi.

Siregar tahun 2005 juga menambahkan bahwa air limbah tentu punya karakteristik yang sangat mempengaruhi proses pengolahan. Karakteristiknya meliputi berbagai sifat biologi, fisika, dan kimia.

Dengan teori tentang limbah cair dari para ahli, maka sangat penting untuk tahu karakteristik dari limbah. Sehingga, dapat mengambil tindakan pengolahan yang tepat. Yaitu dengan memperhatikan seperti apa sifat kimia, biologi, dan fisika. Tujuan utamanya adalah agar pencemaran lingkungan dapat berkurang karena limbah itu sendiri.

Karakteristik Limbah Cair Dari Segi Fisik

Menurut Siregar, karakter limbah cair dari segi fisik adalah dari bau, suhu, warna, dan juga padatan tersuspensi. Parameter paling penting adalah suhu dalam pengolahan limbah. Karena suhu dapat mempengaruhi proses fisik dan biologi.

Sedangkan parameter bau tergantung dari sensitivitas hidung sebagai indera penciuman. Untuk karakter limbah cair melalui warna dapat memperhatikan materi suspended, dissolved, dan kandungan senyawa koloidal, termasuk dengan mengamati spectrum warna.

Untuk parameter padatan tentu dapat dilihat dari floating, dissolved, suspended, atau settable.

Karakter Limbah Cair Dari Segi Kimia Dan Biologi

Limbah cair juga pasti punya kandungan senyawa organik serta anorganik. Nah, keduanya memudahkan para ahli untuk melihat karakter limbah jenis ini secara kimia.

Apa itu senyawa organik? Dalam limbah, senyawa tersebut merupakan karbon yang sudah bercampur dengan berbagai senyawa, termasuk N, O, H, dan P. sementara itu, senyawa anorganik adalah semua hal hasil kombinasi dari elemen yang tidak merupakan susunan karbon organik.

Sedangkan dari segi biologi, tentu melibatkan bakteri. Pada limbah cair, jika terdapat kandungan bakteri, maka menjadi kunci utama.

Beberapa bentuk air limbah memiliki kandungan mikoorganisme bervarisi, terutama pada air limibah yang punya konsentrasi antara 105 hingga 108 organisme per milliliter.

Dari kegiatan industri apapun, jika limbah cair mengandung bakteri patogen, maka limbah dapat menyebabkan pencemaran lingkungan.

Karakteristik Air Limbah Yang Sering Diukur

Bagaimana mengukur karakteristik dari air limbah? Sangat penting melakukan pengukuran air limbah dari kegiatan industri. Sehingga, dapat mengetahui berapa tingkat pencemaran yang dapat terjadi dalam pembuangan limbah tersebut.

Pengukuran suhu dapat menggunakan thermometer air raksa dan menggunakan skala Celcius atau Fahrenheit.

Mengukur nilai pH penting karena dapat membantu memberikan informasi level keasaman air limbah. Skala pH adalah 1-14. Jika limbah tersebut asam, maka menunjukkan pH 1-7. Namun, jika limbah tersebut basa, menunjukkan nilai pH 7 hingga 14. Nilai pH netral adalah 7.

Bagaimana dengan alkalinitas?

Ukuran ini penting untuk mencari tahu kemampuan dari air limbah tersebut dalam proses netralisir. Komponen utama dalam alkalinitas yaitu: karbonat, ion bikarbonat, serta hidroksida.

Dengan mengetahui alkalinitas, maka membantu pelaku usaha untuk mengerti pengelolahan limbah cair yang tepat.

Sedangkan pengukuran dari padatan – total solid, suspended solid, atau dissolved solid- berguna untuk menentukan efisiensi proses pengolahan limbah.

Proses Pengolahan

Tujuan proses pengolahan limbah cair adalah untuk mengurangi tingginya resiko pencemaran yang sangat merugikan lingkungan. Pengolahan limbah cair melibatkan kombinasi pengolahan secara kimia, fisika, dan biologi.

Seluruh proses terjadi untuk menghilangkan kandungan koloid, padatan tersuspensi, serta semua bahan organik atau anorganik terlarut. Pengolahan air limbah juga berfungsi supaya seluruh bahan tersuspensi, serta bahan terapung hilang. Bahkan, juga penting untuk menghilangkan organisme patogen.

Biasanya, pengolahan air limbah menggunakan teknologi IPAL, setelah proses pengolahan sudah melalui proses pengelompokan. Semuanya menggunakan proses berikut:

  • Pengolahan pertama – primary treatment
  • Pengelolaan kedua – secondary treatment
  • Pengolahan ketiga – tertiary treatment

Dalam pengolahan pertama, terdapat filter atau saringan dan bak sedimentasi. Fungsinya untuk memisahkan padatan dan air.

Penyaringan berfungsi untuk meminimalisir padatan serta lumpur tercampur, juga partikel koloid. Dalam industri tertentu, ketika proses sedimentasi, bisa menggunakan tambahan bahan kimia. Sehingga, meningkatkan pengurangan partikel tercampur.

Misalnya, dengan menggunakan tawas untuk proses pengendapan lebih cepat. Tawas dapat diencerkan supaya koagul dalam tawas dapat larut.

Sedangkan untuk pengolahan kedua terjadi agar ada proses aerobik dan anaerobik. Tujuannya agar kolodi hilang dan membuat zat organik dalam limbah cair bisa stabil.

Proses aerobik menggunakan bantuan mikroorganisme sebagai pengurai dan oksigen untuk electron acceptor. Selain itu, juga ada lumpur aktif yang memiliki bakteri pengurai tinggi. Agar proses aerobik berjalan sempurna, biasanya membutuhkan tambahan bakteri dan oksigen.

Proses anaerobik berarti tidak perlu memakai oksigen untuk menguraikan limbah, tapi dnegan stabilisasi lumpur. Hasilnya yaitu biogas sehingga menghasilkan karbon dioksida dan campuran metana.

Pada pengolahan ketiga, tujuannya adalah supaya unsur hara atau nutrisi pada limbah hilang. Biasanya, ada penambahan chlor supaya mikroorganisme patogen bisa musnah dalam limbah cair.

Dalam industri tertentu, proses mengolah limbah cair sangat penting dan membutuhkan proses lebih mutakhir. Contohnya, industri sablon harus punya proses oksidasi yang lebih canggih.

Sehingga, hasilnya akan efektif supaya tidak ada pencemaran lingkungan yang berujung pada masalah kesehatan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!